Not Designed for Human Being

Perjalanan pekan ini, meski sangat singkat seperti biasa, memberi kesempatan untuk menikmati dua kota penting di Uni Emirat Arab, Abu Dhabi dan Dubai, meski hanya untuk secuil sudut saja.

Keduanya memiliki kesamaan dalam banyak hal. Sama-sama kaya dari minyak, itu pasti. Keduanya berlomba-lomba membangun kota modern. Pekerjaan konstruksi bertebaran di seluruh penjuru. Lengan-lengan panjang dari crane-crane jangkung berseliweran. Dengan ekspatriat mencapai lebih dari delapan puluh persen dari jumlah penduduk, keduanya telah dan terus berkembang menjadi kota dunia.

Udara yang belum terlalu panas di bulan April, menggoda untuk berjalan kaki menikmati suasana. Disini, keduanya berbeda. Untuk kota ditengah padang pasir, Abu Dhabi sungguh hijau. Pohon-pohon ditanam di tepi dan median jalan. Tidak jauh dari financial district, kota ini memiliki taman yang sangat luas. Hijau dan menyejukkan. Dirancang sedemikian rupa, ia syurga bagi pejalan kaki dan jogger. Memanjakan keluarga dengan lapangan rumput. Tawa ceria dan lugu anak-anak memberi nuansa yang menyenangkan. Gemericik air mancur kecil di beberapa bagian taman menjadi musik pengiringnya. Sungguh paduan yang apik.

Dipisahkan oleh jalan raya yang lebar, tepat diseberang taman ini, membentang corniche dengan paving block yang rapi bagi pejalan kaki dan pengayuh sepeda. Tidaklah perlu menyeberang jalan raya untuk berpindah dari taman ke corniche atau sebaliknya, karena ada underpass di kedua ujung corniche.

Berjalan kaki dimalam hari sepanjang corniche, dibelai hembusan angin dari laut, menyegarkan dan menghilangkan penat dari aktivitas siang tadi. Sebuah restoran terapung dengan lampu-lampu yang indah berlayar pelan menyusuri corniche, menemani langkah-langkah kaki. Satu-satunya yang patut disesali adalah mengapa menikmati suasana ini sendiri saja, tanpa ditemani orang-orang tercinta.

Pagi hari berikutnya adalah perjalanan menuju Dubai dengan bis yang disediakan penyelenggara even di Abu Dhabi. Ditemani hujan yang tidak deras tapi lebih dari gerimis, memberi kesan tersendiri, karena hujan sangat langka disini.

Mencapai Dubai menjelang siang dan hari ini tidak ada agenda terkait pekerjaan. Godaan untuk berjalan kaki sambil mencoba menemukan tempat untuk santap siang, muncul lagi. Petugas hotel dengan spontan menyebut Dubai Mall, sebuah mall yang sangat besar dan baru dibuka, ketika diminta sarannya tentang tempat yg menyenangkan untuk berjalan kaki. Nuansa yang berbeda mulai terasa.

Lima belas menit berjalan dari hotel ke Dubai mall ternyata jauh sangat berbeda dari pengalaman malam sebelumnya di Abu Dhabi. Dubai menyuguhkan tembok-tembok kekar yang menjulang dan area konstruksi yang sibuk. Hampir tidak ada paving block khusus pejalan kaki. Berjalan di bibir aspal memerlukan kewaspadaan ekstra karena mobil-mobil tetap berlari kencang seolah tidak mempedulikan kehadiran manusia. Mendekati mall, saya harus berjalan dibawah lengkungan rel kereta api yang sedang dibangun, diiringi hiruk-pikuk besi berdenting dan was-was bila sesuatu yang keras jatuh dari atas.

Ini mungkin bukan wajah seluruh Dubai, tetapi sekeping sudut ini telah meninggalkan kesan menyedihkan. Saya lalu menulis di status facebook 'Dubai...not designed for human being...'. Kekhawatiran mulai hinggap, jangan-jangan kota-kota ditanah air juga bergerak ke arah yang sama. Dan 'manusia' harus menepi.

Comments

Popular posts from this blog

Lampu togok dan lampu strongkeng

Kopi cap "Rangkiang", kue sangko & saudagar tembakau

TV Pertama Kami (bagian 3)