Dialog dengan Presiden tentang IPB

Lini masa saya hari-hari ini riuh rendah oleh gelombang tanggapan alumni IPB atas kritik Presiden Jokowi saat berpidato dalam Dies Natalis IPB ke-54.  Apalagi kalau bukan soal lulusan IPB yang bekerja dibanyak bidang lain, tidak ada yang jadi petani.

Sebagai alumni IPB yang tersesat di industri asuransi, maka izinkan saya nimbrung barang sebait dua.

Sesungguhnya kritikan itu bukanlah hal baru dan janggal.  Setiap alumni IPB pasti pernah terlibat dalam perkenalan, perbincangan atau diskusi yang berujung pada perdebatan itu.  Saya pun demikian.

Contohnya adalah seperti dialog imaginer berikut ini antara seorang alumni IPB dan Presiden Joko Widodo saat mereka pertama kali bertemu.
Joko (J): Saya Joko, Mas. Mas e siapa?
Delil (D): Saya Delil, Pak.
J : Mas e kerja dimana?
D: Asuransi.
J: Oh njih...kalau saya punya pabrik mebel Mas.
D: Wah.. bagus itu, Pak. Indonesia perlu lebih banyak pengusaha seperti anda.  Saya sangat respect pada pengusaha dan ingin jadi salah satu dari mereka.  Tapi belum kesampaian juga
J: Lha njih Mas... tapi sementara ini saya diminta jadi Presiden dulu sampai 2019.
D: Lho kok bisa?
J: Lha mbuh... saya juga nggak ngerti Mas, kok akeh sing coblos saya.
D: Yang nyoblos mungkin juga nggak ngerti, Pak.
J: Njenengan alumni mana, Mas? Saya UGM mas, Kehutanan.
D: Universitas Gajah Mungkur?
J: Mboten, Mas.  Iku waduk. Universitas Gajah Mada.
D: Oh..maaf. Saya IPB.
J: Oh..Institut Pertanian Bogor.
D: Bukan. Institut Perasuransian Bogor.
J: Hehe... Mas ini senang bercanda. Tapi, nganu lho mas, saya ini bingung, kok alumni IPB kerja dimana-mana ya, bukan dibidang pertanian. Makanya singkatan IPB malah diplesetkan jadi Institut Perbankan Bogor, Institut Publisistik Bogor, Institut Pemasaran Bogor, piye iku mas...
D: Lho bagus lah itu, Pak...berarti pendidikan di IPB sukses melahirkan tenaga-tenaga yang tangguh dan mampu berjuang dan berkontribusi di bidang apa saja.  Manfaatnya jadi maksimal, karena IPB adalah Institut Pleksibel Banget.
J: Tapi Mas e, opo nggak rancu mas. Mbok ya bidang-bidang lain dikasih ke yang jurusannya saja. Bank dan asuransi biar untuk alumni ekonomi dan keuangan saja. Yang jadi wartawan anak Fisip saja.  Yang jadi HRD ya anak psikologi saja.  Sing jadi guru, mbok ya alumni FKIP ae.  Ngono lho. Kan lebih tertib toh Mas...
D: Ini bukan masalah rancu atau tertib, Pak Presiden.  Justru karena alumni-alumni lain tidak becus mengurus bidang masing-masing, maka talenta-talenta terbaik IPB terpaksa turun tangan. Karena IPB adalah Institut Paling Bagus.
J: Ngono toh. Tapi kan kasihan kalau IPB diplesetin macem-macem Mas...
D: Nggak apa-apa, asal plesetan itu tidak menghina dan bermuatan SARA.
J: Contohnya?
D: Kalau UGM diplesetkan sebagai Universitas Gagal Maning, itu menghina. Anda harus melawan itu, sebaiknya sembari introspeksi.  Tapi, kalau ada yang bilang UGM adalah Universitas Ganteng Maksimal, ra po po toh.. meski untuk sebagian orang itu mungkin bermuatan fitnah.
J: Iyo... Mas e ini kok pinter yo.
D: Anda juga jangan mulai menfitnah saya, Pak Presiden.
J: Hehehe... Maaf.  Tapi nganu lho Mas, banyak orang bilang alumni IPB itu bisa sukses dibidang apa saja, kecuali pertanian.  Piye, Mas?
D: Kata siapa..? Meski banyak alumni IPB yang bekerja diberbagai bidang, tapi tidak sedikit yang berkarir di bidang pertanian atau bahkan menjadi petani.  Banyak yang sukses juga sebagai petani.  Banyak yang mencurahkan seluruh energi dan fikirannya untuk kemajuan desa, tanpa pamrih.  Saya bisa perkenalkan anda kepada mereka.
J: Tapi kok kiprah mereka kurang terdengar e Mas?
D: Memang itulah pokok soalnya.  Petani dinegeri ini telah demikian lama terabaikan.  Bahkan kian hari mereka kian tersudutkan, atas nama pasar bebas.  Kita tahu betapa vitalnya peran sektor pertanian bagi ketersediaan pangan dan stabilitas nasional.  Alih-alih mengeluarkan kebijakan dan anggaran untuk mendukung petani, pemerintah malah membuka keran lebar-lebar buat impor. Gimana petani nggak makin tercekik. 
J: Ngono toh mas...kok saya nggak pernah denger pandangan seperti ini sebelumnya ya?
D: Makanya anda harus pandai-pandai memilih menteri dan staff yang cerdas dan jujur, Pak Presiden.  Bukan yang ABS. 
J: Gimana ya Mas, biar dapat pembantu dan staff yang cerdas dan jujur?
D: Ah gampang itu, pastikan saja anda punya dua hal, Pak Presiden.
J: Opo iku, Mas?
D: Kecerdasan dan kejujuran.
J: Tapi, nganu, alumni IPB nggak ada yang jadi presiden ya Mas?
D: Ngawur Njenengan, Pak Presiden. SBY mau anda tarok dimana. Dia itu alumni IPB. Adik kelas saya. Saya lulus 1997 dan dia 2004.
J: Oh maaf.  Mumet aku Mas, dari tadi salah lagi, salah lagi. 
D: Supaya nggak mumet, ikuti saran Cak Lontong aja, Pak.
J: Piye mas?
D: Mikir!

Comments

Popular posts from this blog

Lampu togok dan lampu strongkeng

Kopi cap "Rangkiang", kue sangko & saudagar tembakau

TV Pertama Kami (bagian 3)