Posts

Showing posts with the label kolak

Ramadan tempo doeloe (10): Pasa Mambo

Ketika masih tinggal didusun bersama Ibu dan Abak, selama bulan Ramadan, pabukoan  (makanan pembatal puasa) selalu kami buat sendiri.  Bahkan beberapa bahan bakunya seperti ubi, singkong, pisang, labu, pepaya, alpukat dan tebu, berasal dari kebun sendiri.  Didusun kami tidak ada pasar kaget yang tiba-tiba muncul dibulan Ramadan saja, dimana kita dapat membeli segala macam pabukoan .  Paling-paling, pada hari balai (hari pasar) yang dikampung kami jatuh pada setiap Jumat, ada pedagang yang menjual cindua bareh, cindua dalimo dan kolang-kaling.  Itu pun masih mentah, masih perlu diolah di dapur masing-masing sebelum dapat dinikmati saat berbuka tiba. Pasar Ramadan hanya ada di Sungai Penuh.  Namanya Pasa Mambo.  Tak tahu aku bagaimana sejarahnya hingga pasar itu bernama mambo.  Pasar sebulan penuh itu memanfaatkan jalan yang lumayan lebar diantara dua blok Pasar Beringin.  Pada hari biasa diluar bulan puasa, selain untuk lalu lalang, ja...

Ramadan tempo doeloe (4): Dilarang kentut

Pabukoan adalah kata dalam bahasa minang untuk makanan atau minuman khas untuk berbuka puasa, terutama dibulan Ramadan.  Meski sirup ABC rasa jeruk bertahan terus sebagai pilihan utama pembatal puasa kami sekeluarga, Ibu tetap mengupayakan untuk membuat pabukoan sebangsa kolak dan kawan-kawannya.  Meski Ibu tahu bahwa kami semua sudah ikut mazhab Abak dalam berbuka, langsung menyantap nasi dan lauk pauk selepas seteguk sirup ABC.  Pabukoan hanya disentuh setelahnya, besar kemungkinan setelah tarawih menjelang tidur.  Meski Ibu maklum, bagi Abak kolak tidak penting sama sekali, karena Abak memang tidak suka makanan yang manis-manis. Satu-satunya yang membuat Ibu tetap menyiapkan makanan khas berbuka adalah kami anak-anaknya, yang ia tahu telah bersusah payah berpuasa menahan lapar dahaga semenjak fajar terbit sehingga surya terbenam.  Akan saya ceritakan pada edisi lain mengapa kami sekecil itu demikian tangguhnya berpuasa.    Serupa...

Ramadan tempo doeloe (3): Nasi dulu, baru kolak

Sebab sirup ABC rasa jeruk hadir setiap hari saat berbuka puasa, makanan berbuka lainnya menjadi kurang penting bagi keluarga kami. Bila diperingkat dari segi tingkat penting tidaknya, maka urutannya adalah sirup ABC rasa jeruk, nasi dan lauk seadanya, barulah penganan khas berbuka. Hal ini juga didorong oleh kebiasaan unik mendiang Abak, yang tidak menyukai makanan manis. Baginya berbuka dengan makanan manis sebangsa kolak dan kawan-kawan bukanlah ide yang masuk akal. Bila bedug Maghrib ditabuh, Abak hanya berbuka dengan sirup ABC rasa jeruk yang encer dan kurang manis seduhan Ibu, lalu menunaikan shalat maghrib. Selanjutnya langsung menyantap makanan utama berupa nasi dan lauk-pauk apapun yang ada. Adapun kolak atau penganan special apapun yang dibuat Ibu dan sepatutnya menjadi pembuka puasa, barulah disentuh selepas shalat Isya dan tarawih. Keluarga Ibu sebenarnya tidak menganut mazhab Abak dalam hal berbuka puasa, mereka seperti kebanyakan orang Indonesia, berbuka dengan kur...