Ramadan tempo doeloe (24): Mudik menghantar nyawa
Terjebak macet dan tak dapat keluar dari jalan bebas hambatan berbayar hingga lebih dari sehari semalam adalah sesuatu yang luar biasa dan tak bisa dimaklumi sekedar sebagai akibat terlalu banyaknya pemudik dan terbatasnya prasarana. Lebih memilukan karena setidaknya dua belas jiwa melayang. Saya berani menyatakan pastilah ada kegagalan pengaturan, koordinasi dan pengambilan keputusan dari otoritas-otoritas berkuasa. Lepas tangan dan sibuk mencari kambing hitam adalah pengecut dan memalukan. Menyatakan bahwa penyelenggaraan arus mudik tahun ini lebih baik dari pada tahun-tahun sebelumnya adalah terlalu menyakitkan, seolah dua belas nyawa itu tiada harganya. Meski akhirnya permohonan maaf itu keluar dari mulut Menteri Dalam Negeri. Datang terlambat namun tak hendak kita menghakimi ketulusannya, yang terpenting diikuti tindak lanjut perbaikan yang nyata. Hingga sepuluh tahun lalu, keluarga kecil kami termasuk jutaan penduduk Jabotabek yang mudik ke Jawa saat...