Posts

Showing posts with the label jakarta

Saudaraku, Mari Kita Bicara, Berpahit-pahit

Image
Pesan ini ditujukan kepada Muslimin dan Muslimat saja Terutama yang memiliki KTP DKI Jakarta Apalagi hingga kini bersikukuh memilih Ahok sang petahana Lama aku terpaku apakah ini perlu Namun waktu kian sempit, saatnya kini kita bicara berpahit-pahit Apapun kesudahannya, aku ikhlas menerima, sepahit apapun itu Source: Sakakibara Saudara-saudariku seiman pemilik KTP Jakarta Bila engkau telah memutuskan untuk memilih pasangan calon nomor dua Haji Djarot mendampingi Ahok yang menistakan agama Maka dengan hati berat dan lidah kelu harus kusampaikan Bahwa engkau telah serupa yahudi dan nasrani Bahwa engkau telah terjerembab ke lembah kemunafikan Bahwa engkau telah mengukir alasan untuk Allah menurunkan azab-Nya Bila masih ada Iman Islam didadamu Pastilah sakit hatimu Sesuci apa aku Sampai menghakimi seberat itu Saudaraku Aku tidak menghakimimu Aku tidak mengkafirkanmu Aku tidak mengutukmu Apalah aku ini Tidak lebih mulia darimu Ketiganya adalah Titah Allah ...

Kutitipkan Jakarta pada Imanmu

Image
Gundah ini mestinya dapat kupendam sendiri Namun Umat Islam laksana satu diri Perih seujung kuku, menggigil demam sekujur badan Bahu seorang Muslim adalah tempat bersandar Muslim lainnya Maka biarlah kubagi gulana ini, kepada saudara-saudariku seiman yang memiliki KTP Jakarta Tanah Jakarta tak cukup lebar untuk menampung hidup seperempat miliar manusia Indonesia Tapi Ibukota adalah milik semua   Saudaraku Bila kau telah berketetapan hati Untuk memberikan suaramu pada pasangan nomor urut satu atau tiga Tiada duanya Sambutlah terimakasih tulus dan salam hormatku Atas keteguhanmu menjaga Iman Teruslah berdoa kepada Sang pembolak-balik hati Yang Maha mengetahui palung terdalam isi hati Agar hatimu ditegarkan seteguh-teguhnya Tak berpaling lagi Saudaraku Engkau yang memilih menyerahkan suaramu bagi pasangan nomor dua Sesungguhnya itu adalah hakmu Yang tak boleh diusik siapapun Yang akan engkau pertanggungjawabkan Hari ini dan nanti Sendiri Saudaraku Yang memili...

Uda Tamrin: potret nyata diaspora Indonesia

Pulang ke Padang siang ini, telah saya pesan taksi online menuju bandara.  Order saya diambil pengemudi bernama Indra bin Tamrin.  Kini saya telah duduk dikursi belakang, taksi mulai bergerak. "Nak pegi mana, Encik?", ia buka pembicaraan. "Saya nak balik Padang," jawab saya. "Encik orang awak, ke?", tanyanya sambil menoleh ke belakang. "Iya". "Encik boleh cakap Minang?, tanyanya lagi. "Lai", saya jawab singkat dalam bahasa Minang. Seketika taksi di rem mendadak. "Haa...duduak lah dimuko, buliah maota lamak awak", katanya sumringah sambil badannya meregang kekiri dan tangan membuka pintu depan. "Ambo Tamrin", ia memperkenalkan diri sambil kami bersalaman setelah saya duduk disampingnya. "Jadi namo Uda indak Indra do?", selidik saya.  Nama yang tertera pada aplikasi taksi online dan kartu pengenal pengemudi yang di pasang diatas dashboard adalah Indra bin Tamrin.  Saya menduga Indra mungkin na...

Mana nomor tempat duduknya?

Akhir Oktober 1999, aku lupa tanggalnya, adalah salah satu hari paling monumental dalam hidupku.  Hari itu, untuk pertama kalinya, aku naik pesawat terbang.  Tidak main-main, penerbangan pertamaku adalah penerbangan internasional, meski bukan ke destinasi idaman banyak orang, India.  Maskapai yang beruntung ikut serta mengukir sejarah hidupku adalah Cathay Pacific, jurusan Jakarta-Mumbai via Hong Kong.   Bagaimana tidak monumental, hingga hari itu, kendaraan paling mewah yang aku tumpangi adalah Bis Executive Lorena.  Rasanya sudah seperti raja di sepanjang jalan lintas Sumatera, sambil melirik bangga kepada para penumpang bis-bis ekonomi yang meringis kegerahan.   Malam sebelum hari bersejarah itu diisi dengan mengepak barang bawaan kedalam koper besar warna hitam yang baru dibeli dari Mangga Dua.  Karena barang bawaanku agak banyak, ritual packing berakhir menjelang tengah malam.  Setelah memastikan semuanya masuk koper, sambil duduk ...

Hiruk Pikuk Setengah Hati

Image
Blog ini ditulis diatas bis Damri dari Bandara Soekarno Hatta menuju Bekasi.  Lama sudah saya tidak menggunakan jasa bis Damri Bandara, lebih dari delapan tahun.  Karena lebih sering ke Jakarta untuk urusan pekerjaan, saya selalu menggunakan taksi.  Kunjungan kali ini pun sebenarnya untuk urusan pekerjaan, tapi dua hari pertama yang kebetulan akhir pekan akan saya gunakan untuk menyelesaikan beberapa urusan pribadi.  Menginappun tidak dihotel, tapi numpang dirumah adik.  Tentu tak layak saya menggunakan fasilitas kantor untuk transportasi. Maka saya putuskan untuk naik bis Damri saja.  Taksi pasti mahal apalagi dengan kemacetan Jumat malam.  Rupiah kini terasa mahal bagi TKI seperti saya, karena Ringgit saat ini adalah mata uang Asia dengan performa terburuk, bahkan terhadap rupiah pun ia terdepresiasi. Mendarat diterminal 2D, saya berjalan cukup jauh menyusuri plaza terminal bandara untuk mencapai Shelter Bus disebelah terminal 2F, diujung yang lain...