Ramadan tempo dulu (6): Toa tua cempreng
Ini kisah berpuasa ketika saya sudah tinggal di Sungai Penuh, ibukota kabupaten kami. Saya pindah ke Sungai Penuh untuk belajar mengaji dan tinggal dirumah Tek Da, adik Ibu. Di dusun kami waktu itu tidak ada tempat belajar mengaji yang dekat rumah dan cukup baik. Di dekat rumah Tek Da ada surau kecil, namanya surau Madaniatul Islamiyah. Disitu pula saya belajar mengaji setiap malam bersama puluhan anak-anak lain, dibawah bimbingan dua orang buya muda berdedikasi tinggi, Uda Acang dan Uda Jamang. Selama bulan Ramadan, kelas mengaji anak-anak dihentikan karena surau dipakai untuk shalat tarawih. Namun bukan berarti kami berhenti belajar mengaji. Anak-anak yang sudah lancar membaca Alquran, meski tajwidnya masih centang perenang, diwajibkan bergabung dengan rombongan tadarus keliling. Tadarus dilakukan selepas shalat tarawih. Rombongan ini terdiri dari para jamaah surau Madaniatul Islamiyah, tua dan muda, tentu saja yang pandai mengaji. Mereka berkeliling setiap malam sepanjang ...