Posts

TV Pertama Kami (bagian 2)

Image
Sebelum TV pertama kami tiba, radio telah menjadi andalan hiburan kami.  Kami punya dua, yang satu radio tape dan yang lain radio transistor saja, berukuran lebih kecil, tidak ada tape player-nya.  Radio transistor kecil ini bisa dibilang milik Abak, karena radio itu dibawa ke ladang.  Ia menjadi teman Abak bila bermalam di sudung (pondok) bambu di tengah ladang.  Baginya, kurang lebih radio itu seperti laptop jaman sekarang, dibawa kemana-mana.  Satu lagi, mereknya juga National.  Mau tahu seperti apa wujudnya?  Tidak persis, tapi kurang lebih seperti ini Radio seperti ini memiliki tiga band (kisaran) gelombang, dua band untuk SW (Short Wafe) and satu untuk MW (Medium Wave) atau AM (Amplitud Modulation).  Gelombang AM biasanya digunakan oleh radio-radio lokal, karena jangkauan pancarnya yang tidak terlalu jauh.  Pada masa itu, masjid besar biasanya punya stasiun radio sendiri dan dipancarkan melalui gelombang AM, tak terkecuali di ...

Pencitraan: Jokowi dan Poligami

Pencitraan menjadi kata yang semakin populer belakangan ini, dikaitkan dengan dinamika politik tanah air menjelang pemilihan umum 2014.  Konotasinya menjadi cenderung negatif bagi orang tertentu, terutama bila pencitraan itu dilakukan atau terkait dengan tokoh yang tidak disukai, apapun sebabnya. Blusukan ala Jokowi disambut sebagai pencitraan oleh para anti Jokowi.  Munculnya Anis Matta bersama istri keduanya yang orang Hungaria itu di Taman Suropati juga dicap sebagai pencitraan PKS haters.  Dahsyat, ada yang mengatakan Anis sebagai politisi ambisius menjelang 2014 dengan menjual agama dan merendahkan martabat wanita dengan poligami.  Dia disebut juga tidak tahu diri dengan membandingkan dirinya dengan Bung Karno, yang punya istri sembilan. Ngomong-ngomong ada fakta menarik dari berita Anis dan istri keduanya ini.  Salah satu media online mengkaitkan manuver Anis Matta dengan Jokowi.  Tidak percaya, klik berita yang berjudul "Anis Matta dan Istri Ked...

TV Pertama Kami (bagian 1)

Image
Sore tadi, ketika memilih-milih laga English Premier League yang mau ditonton malam harinya, tiba-tiba ingatanku meluncur ke momen ketika keluarga sederhana kami memiliki TV untuk pertama kalinya, antara tahun 1981-1982. TV pertama kami adalah TV hitam putih berdiagonal 14 inchi, mereknya National.  Panjang, lebar dan tingginya hampir sama, nyaris seperti kubus.  Disisi mukanya ada layar 14 inchi yang cembung dan panel kontrol yang terdiri dari tombol on/off , pengatur volume suara, pengatur kontras, pengatur intensitas terang dan pencari saluran (channel).  Tidak ada remote control, tentu saja. Sisi kiri, atas dan bawah terbuat dari papan plywood (triplex) bermotif coklat.  Sisi belakang ditutup dengan lembaran seperti asbes, berwarna coklat.  Di bagian tengah sisi belakang itu, ada bagian menonjol seperti kubus berwarna hitam, sejajar dengan ujung tabung layar kacanya.  Kurang lebih penampakannya seperti gambar dibawah ini. Kedatangan TV i...

Pak Bun yang Kami Kenal

Kami berdua adalah alumni statistika angkatan 30.  Bunawan Sunarlim, yang kami panggil Pak Bun, adalah dosen pembimbing skripsi kami.  Kami mendapat himpunan dosen pembimbing yang persis sama.  Pak Bun adalah pembimbing pertama saya dan pembimbing kedua Ida.  Pak Aam Alamudi adalah pembimbing pertama Ida dan pembimbing kedua saya. Pak Bun selalu tampil sederhana , lugu dan apa adanya.  Celananya sedikit melorot dan selalu pakai kaos kaki dan sandal kulit saktinya.  Kami belum pernah melihat Pak Bun memakai sepatu.  Pak Bun mengajar Statistika Non-parametrik.  Perlu konsentrasi khusus untuk mengikuti kuliah Pak Bun.  Kalau sudah didepan kelas, Pak Bun cenderung cuek dengan keadaan sekitarnya.  Miskin joke .  Pak Bun mengajar dengan kecepatan diatas rata-rata, meleng sedikit, akan ketinggalan kereta.  Dengan cepat jemari Pak Bun belepotan kapur tulis.  Tak lama kemudian celana bagian atas beliau memutih pula ole...

Mambantai dan Makan Daging Empat Kali Setahun

Huru-hara mahalnya daging sapi belakangan ini mengingatkan saya pada masa tiga puluhan tahun lalu, di sebuah dusun di punggung bukit barisan, Sumatera.  Saya lahir dan tumbuh disana hingga masa sekolah menengah. Dusun itu terletak di ketinggian dan berhawa dingin, dikelilingi bukit dan gunung.  Sungai-sungai kecilnya mengalirkan air sejuk dan jernih.  Ibu kota kabupaten tiga puluh lima kilometer jaraknya.  Jarak yang tidak terlalu jauh itu harus ditempuh selama dua jam karena kondisi jalan yang mendaki, menurun, berkelok dan berlubang.  Dimusim penghujan, perjalanan bisa lebih lama lagi.  Namun, medan berat itu diimbangi dengan pesona alam ciptaan Allah disepanjang jalan.  Hijaunya sawah ladang dan bukit serta indah dan tenangnya Danau Kerinci.  Apabila hari cerah, Gunung Kerinci pun tampak berdiri gagah menjaga. Satu lagi, setiap bus yang melayani trayek dusun kami dan ibu kota kabupaten selalu berhenti di sebuah rumah makan ditepi Danau Ker...

Abak

Image
Kami memanggilnya Abak, panggilan untuk ayah dalam bahasa Minang.  Ia multi profesi.  Sepanjang hayatnya, ia pernah jadi tukang jahit, tukang pangkas rambut, tukang patri, tukang reparasi sepeda, tukang reparasi lampu petromax, pembuat serbuk kopi, pembuat kue sangko, petani kopi, petani kayu manis, petani sekaligus tauke tembakau hingga menjadi penyelundup antar negara.  Bahkan,teman-teman lamanya memanggilnya dengan panggilan khas, 'tukang'. Ia adalah tukang segala macam. Ia adalah pembelajar sejati, sekaligus pembosan tingkat tinggi.  Kombinasi ini yang membuatnya memiliki banyak kepandaian tapi tidak pernah benar-benar ahli disalah satunya.   Meski tak satupun profesi-profesi itu membawanya kesuksesan finansial, ia sangat bangga dengan kekayaan pengalaman itu.  Tak bosan ia bercerita kepada anak-anaknya tentang apa saja mengenai pekerjaan-pekerjaannya itu.  Berulang-ulang, ia tidak pernah bosan dan kami juga bersabar dan berusaha agar tidak terli...

Margareth Thatcher

Image
Kabar wafatnya mantan perdana menteri Inggris, Margareth Thatcher, hari ini (8 April 2013), membawa kenangan saya ke masa lalu.  Margareth Thatcher adalah nama yang paling sering saya dengar sepanjang kurun akhir 1970-an hingga awal 1990-an.   Pasalnya, almarhum Abak (ayah) adalah pendengar sangat setia dari Siaran Radio BBC London berbahasa Indonesia.   Waktu itu radio masih berada dimasa jayanya.   Dimasa itu setiap pagi saya dibangunkan oleh alunan musik pembuka siaran BBC pukul 6 WIB.  Musik khas itu terdengar lagi pukul 6 petang dan 8 malam.  Demikianlah,  setiap hari paling tidak tiga kali Abak mendengar warta berita dunia.  Satu kali saja terlewatkan karena sesuatu hal, Abak biasanya akan menggerutu kecewa.  Kadang menyalahkan situasi tak terduga yang membuatnya tidak dapat berada didekat radio kesayangannya. Pada masa itu, Margareth Thatcher adalah salah satu pemimpin dunia terkemuka.  Sehingga namanya paling sering...