Mana Indonesianya?

Ada satu alasan yang membuat saya tidak sabar menanti perjalanan kali ini. Tidak kotanya, tidak pula kegiatan yang harus saya lakukan disana. Melainkan pertemuan dengan rekan setanah air.

Pada dua belas April dua ribu sembilan, Abu Dhabi menjadi tuan rumah Annual General Meeting Global Takaful Group (GTG) . GTG adalah asosiasi perusahaan takaful and retakaful yang beranggotakan empat puluh sembilan perusahaan dari berbagai belahan bumi. Diantaranya terdapat lima perusahaan asuransi/reasuransi syariah dari Indonesia. Mereka bukan anggota biasa, melainkan termasuk pendiri asosiasi ini. Salah seorang eksekutif reasuransi syariah Indonesia menjadi anggota Dewan Direktur GTG. Tahun-tahun sebelumnya, selalu ada utusan Indonesia, setidaknya satu perusahaan. Tapi kali ini tidak.

Dua hari kemudian, 14-15 April 2009, di Dubai, berlangsung World Takaful Conference, sebuah konferensi tahunan industri takaful yang dihadiri oleh utusan dari seluruh dunia. Lagi-lagi saya tak bertemu delegasi dari Indonesia disitu.

Ketidakhadiran Indonesia pada dua even ini saya sayangkan. Bukan karena kecewa tidak berjumpa kawan sebangsa, tapi lebih pada keprihatinan akan enggannya Indonesia mengambil peran aktif dalam perkembangan industri asuransi syariah global. Dibanyak even ditempat lain, partisipasi Indonesia juga minim.

Peranan aktif Indonesia dalam perkembangan ekonomi syariah merupakan suatu keniscayaan mengingat di Indonesialah terhampar masa depan cerah, dengan penduduk yang besar dan kekayaan alamnya yang luar biasa. Fakta ini bukan semata untuk menghibur diri, namun diakui terus terang oleh bangsa lain.

Memang, menghadiri konferensi atau semacamnya seringkali membosankan karena kadang tidak banyak informasi baru yang dibawa pulang. Akan tetapi ia memiliki efek yang dahsyat dalam ekspansi jaringan dan saling tukar informasi secara informal, komponen yang sangat diperlukan untuk terus tumbuh dan berkembang.

Ada fakta yang menarik mengemuka pada saat GTG annual meeting sampai pada sesi penentuan tuan rumah annual meeting berikutnya. Meski tidak ada utusan Indonesia yang hadir, tetapi ada pesan dari tanah air yang dibawa oleh delegasi negara jiran. Pesan mengatakan bahwa tidak hadirnya delegasi Indonesia lebih dikarenakan biaya perjalanan dan akomodasi ke Timur Tengah yang terlalu tinggi. Oleh sebab itu, Indonesia bersedia menjadi tuan rumah untuk pertemuan tahun depan, dan pastilah semua delegasi Indonesia akan turut serta.

Alasan ini terdengar agak menggelikan. Kita memang tidak kaya, tetapi tidak pula terlalu miskin sehingga tidak mampu membayar untuk sebuah perjalanan yang bermanfaat. Terlebih penting adalah memahami bahwa biaya itu tidaklah terlalu besar bila dibandingkan dengan benefit yang bisa di peroleh, yaitu memainkan peranan strategis dalam perkembangan ekonomi syariah. Bila terus pasif seperti ini, kita akan kehilangan banyak kesempatan.



Comments

kusumarukmi said…
Mungkin tidak hanya masalah biaya. Seringkali perjalanan ke luar negeri disorot tajam dan dianggap hanya perjalanan jalan-jalan saja. Maybe...
Tapi, tetap saya setuju dengan perspektif Delil

Popular posts from this blog

Lampu togok dan lampu strongkeng

Kopi cap "Rangkiang", kue sangko & saudagar tembakau

TV Pertama Kami (bagian 3)