Kenapa Kita Suka Corat-coret Tembok?

Pagi tadi saya ke kantor urusan konsuler KBRI Kuala Lumpur untuk legalisir dokumen.  Karena antrian cukup panjang, saya sempat menggunakan salah satu toilet pria yang diperuntukkan bagi para TKI yang berurusan dengan KBRI.  Sekilas, tidak ada yang istimewa dengan toilet ini.  Penampakannya cerminan sebagian besar toilet umum di tanah air, jorok, pesing dan coretan ditembok.  Salah satu coretannya berbunyi "AING TEU NGARTI PIKIRAN PEJABAT INDONESIA YANG BERADA DI MALAYSIA...GAK PERNAH MIKIRIN RAKYATNYA.  MIKIR ATUH SIA TEH NJING. VIKING TASIK."


Coretan ini mengungkap banyak fakta.  Penulisnya laki-laki (coretan ini didinding toilet pria), berasal dari Tasikmalaya dan dia pendukung klub sepakbola kebanggaan bandung, Persib.  Viking adalah sebutan untuk supporter Persib.  Dan yang terpenting, jelas sekali dia baru saja dikecewakan oleh aparat pemerintah.  Coretan menyiratkan kemarahan dan kepasrahan, kebencian memuncak tapi tak tahu apa yang harus diperbuat.

Coretan lainnya berbunyi "WC KOK PRENGUS KOYO SING MOCO". Aseem! Kemungkinan besar yang nulis adalah pria Jawa.  Ada pula putra Lombok yang mempromosikan nomor telepon genggamnya, entah untuk apa.

Kita orang Indonesia senang sekali corat-coret tembok.  Dapat dimengerti bila corat-coret itu dibuat anak-anak balita.  Kedua anak saya "melukis" tembok rumah kecil kami dengan alat tulis apapun yang ditemuinya.  Motifnya nggak jelas, sebagian besar garis panjang dan melengkung yang akhirnya menutup seluruh permukaan.  Adakah orang yang meneruskan kebiasaan corat-coret hingga dewasa merupakan korban dari masa kecil tak bahagia, hasrat masa balita yang tak tersalurkan?

Padahal, facebook sudah menyediakan tembok yang tak terkira luasnya untuk corat-coret apa saja.   Dari segi jumlah pengguna, orang Indonesia adalah pengguna facebook kedua diseluruh dunia, lebih dari 60 juta orang.  Orang Indonesia sebenarnya telah menggunakan facebook wall secara masif untuk berbagai keperluan.  Bukan sekedar saling sapa, berbagi dan tukar infromasi, tapi juga untuk show-off, meratap dan bahkan bertengkar.  Orang Indonesia juga sangat aktif di social media lainnya seperti Twitter, Instagram, blog, linkedin dan sebagainya.  Tapi kenapa masih belum cukup hingga cara primitif dengan mem-bully tembok toilet masih dilakukan?

Kebiasaan corat-coret tembok orang Indonesia sudah keterlaluan dan mendunia.  Ia dapat dijumpai ditempat-tempat umum diseluruh dunia, bahkan hingga ke tempat suci.  Sangat mudah untuk mengenali bahwa coretan itu mahakarya putra Indonesia, mereka senang sekali meninggalkan identitas, baik nama bahkan nomor telepon atau paling tidak daerah asal.  

Tapi, kenapa?

Comments

Popular posts from this blog

Lampu togok dan lampu strongkeng

Kopi cap "Rangkiang", kue sangko & saudagar tembakau

TV Pertama Kami (bagian 3)