Musibah Yang Menyelamatkan

Ini kejadian nyata tiga pekan lalu. Saya kembali ke Bogor setelah enam tahun untuk kunjungan singkat tidak lebih dari delapan belas jam. Misi utama adalah menyerahkan dua anak remaja saya, Daffa dan Zaki, kepada Kang Baban Sarbana untuk dibawa tinggal didesanya dikaki Gunung Salak. Kunjungan yang pendek tapi mempertemukan saya dengan dua orang pejuang tangguh.

Selepas serah terima dengan Kang Baban, saya buat janji untuk mengunjungi seorang kawan di Sentul. Selepas Maghrib saya pesan kendaraan dari aplikasi di telepon genggam dan diambil oleh pengemudi bernama Muhammad.

Saya duduk dimuka, disamping Muhammad. Ia membuka perbincangan dengan mengatakan bahwa hari itu ia beruntung mendapatkan empat penumpang sebelum saya secara berurutan tanpa jeda dan semuanya melalui jalur yang sama yang bebas macet, bolak-balik.

Ia lalu bertanya mengapa saya di Bogor. Saya jelaskan singkat dan ia terkejut karena saya alumni IPB dan kenal Kang Baban. "Saya juga alumni IPB angkatan 29, Faperta", katanya. Ia ternyata senior satu angkatan diatas saya, beda fakultas. Kami tidak kenal sebelumnya, tapi kami memiliki common friends banyak sekali. Setiap ia sebut nama kawan-kawannya, sebagian besar saya kenal, demikian pula sebaliknya.

Muhammad berasal dari Bandung, kini tinggal di Ciampea dan berprofesi sebagai guru SMK di Mega Mendung. Istrinya juga guru di SMA tak jauh dari rumah mereka. Karena rumah dan tempat bekerja berada disisi Bogor yang berlawanan, setiap hari Muhammad membelah kota Bogor berangkat dan pulang kerja dengan sepeda motor. Ikhlas ia tempuh jarak yang tidak dekat itu, yang penting istrinya bekerja dekat rumah agar lebih banyak waktu dengan anak-anak. Mereka dikarunia empat orang putera-puteri.

Sang istri juga menggunakan sepeda motor setiap hari. Praktis mobil mereka lebih banyak menganggur, kecuali bila mereka sekeluarga bepergian diakhir pekan. Namun tidak setiap akhir pekan mereka jalan-jalan.

Maka terbersitlah ide untuk memberdayakan mobilnya dengan mendaftar sebagai pengemudi pada sebuah aplikasi transportasi yang memang sedang trend. Mulanya hanya ikut-ikutan teman saja, lama-lama Muhammad ketagihan. Hasilnya ternyata lumayan. Maka diakhir pekan saat tidak punya agenda keluarga, ia selalu dijalanan menjemput rezeki tambahan.

Saya uji ia dengan pertanyaan menjebak, "Nggak malu Kang, alumni kampus top IPB malah jadi supir?"

Muhammad menjawab sengit, "Kenapa harus malu, ini pekerjaan halal! Saya bisa atur jadwal bekerja semaunya, nggak terikat. Apalagi kewajiban utama saya sebagai guru tetap prioritas. Kalau Sabtu Ahad ada kegiatan sekolah, saya nggak narik."

"Udah gitu, ini bukan semata-mata masalah uang, Mas. Nggak nyupir juga, InsyaAllah gaji guru saya dan istri cukuplah untuk hidup sederhana. Tapi pekerjaan ini kasih kesempatan saya ketemu orang-orang baru dengan cerita dan pengalaman macem-macem. Sebagian malah jadi teman. Kayak sekarang ini, kita justru kenalan, padahal dulu dikampus nggak pernah ketemu. Kan bagus Mas, saya nambah wawasan sekalian menjalin silaturahim", urainya panjang lebar.

Tak terasa kami sampai ditujuan, Kang Muhammad langsung bilang, "nggak usah bayar. Hitung-hitung senior traktir adik kelas."

"Kalau tahu Akang senior saya, saya tadi pilih option cash, biar gak perlu bayar. Tapi, saya terlanjur pakai kartu kredit, biar nggak ribet", jawab saya kecewa.
Source: Harian Nasional
 


Mensyukuri Musibah

Esok paginya saya kembali memesan mobil melalui aplikasi telepon genggam. Kali ini dari Bogor menuju Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Ngobrol hingga larut dimalam sebelumnya memaksa saya memperpanjang tidur selepas Subuh. Kini waktu agak mepet, ada resiko ketinggalan pesawat kalau saya naik bis Damri seperti rencana semula.

Aplikasi menampilkan pesan bahwa ongkos agak mahal karena permintaan pagi itu sedang tinggi. Tertulis disitu Rp. 328,000. Lumayan, tapi tetap lebih murah dibanding saya ditinggal pesawat. Order saya diambil pengemudi bernama Daday. Ia tidak jauh, hanya dua menit dari hotel tempat saya menunggu.
 
Sejurus kemudian telepon saya berdering, dari nomor yang tidak saya kenal. Lalu putus. Saya telepon balik, disambut suara diseberang, "Punten, Pak. Saya supir yang ambil order Bapak. Maaf, saya miss call, soalnya nomer HP Bapak kayaknya nomer luar negeri, takut pulsa saya habis". 
"Nggak apa-apa, Pak. Saya tunggu di lobby, ya." Jawab saya singkat. Saya pikir dia cuma mau konfirmasi order saja.

Tapi Pak Daday malah menyambung pembicaraan, "Anu Pak, boleh nggak Bapak cancel ordernya di aplikasi, tapi saya tetap jemput Bapak dan Bapak bayar cash saja?". Saya tertegun dan mulai curiga, mencium sesuatu yang tidak beres.
"Saya nggak mau bayar dendanya Pak, kalau cancel", jawab saya singkat.
"Kalau customer cancel sebelum lima menit, nggak kena denda, Pak", Pak Daday ngotot.

Gelagat tidak baik rasanya semakin kentara, maka saya berterus terang, "Pak, kalau saya ikuti kemauan Bapak, artinya Bapak dan saya telah menipu perusahaan aplikasinya. Itu tidak fair, Pak. Kalau mau, silakan Bapak yang cancel. Saya akan bikin order baru".

"Aduh, bukan begitu maksud saya, Pak. Bapak kan mau ke Bandara nih, kan jauh, Pak. Saya mesti isi bensin dulu nih. Tapi Bapak kan bayarnya pake kartu kredit, saya nggak terima duitnya sekarang. Saya baru keluar nih Pak, Bapak orderan pertama saya nih. Jadi, saya belum ada duit nih buat beli bensin. Saya tetep pengen bawa Bapak ke Bandara, jarang-jarang saya dapet order gede kayak gini, Pak. Tapi saya juga perlu duit buat beli bensin. Gimana Pak, boleh nggak, Pak?"

Jawaban panjang ini membuat saya terpaku beberapa saat hingga terdengar kembali suara Pak Daday, "Halo, Pak?"  Meski masih ragu, hati kecil saya merasa Pak Daday berkata jujur. "Ok, saya cancel sekarang. Saya tunggu di lobby, ya", jawab saya menutup pembicaraan.

Tak sampai dua menit kemudian, sedan kecil berwarna hitam berhenti didepan lobby. Supirnya keluar sambil berkata, "Saya Daday, Pak". Sementara mata saya berpindah-pindah dari nomor plat mobil dan layar telepon genggam. Pak Daday segera tanggap, "Iya, maaf Pak, mobil yang saya biasa bawa lagi diservis. Jadi sama bos saya dikasih mobil yang lain buat hari ini aja." Oh, ternyata Pak Daday tidak punya mobil sendiri. Pagi ini dua kali saya dan Pak Daday berkomplot melanggar peraturan aplikasi transportasi yang mempertemukan kami.

Jalan Pajajaran relatif lancar, beberapa menit kami sudah di jalan tol Jagorawi. Pak Daday segera menepi memasuki area pom bensin yang tidak jauh dari pintu tol Bogor. Ia benar-benar tak punya uang, bensin saya yang bayar.

Saya menjangka Pak Daday berusia sekitar 45-46 tahun, meski raut wajah dan hamparan perak dikepalanya membuat ia tampak lebih tua.

Kami kembali meluncur sepanjang Jagorawi, seperti biasa saya duduk dimuka dan Pak Daday mulai bercerita. Ia asli orang Bogor yang ketika muda berani merantau hingga Makasar dan tinggal disana selama 25 tahun sampai 2014. Disana ia menemukan jodohnya, seorang perempuan Bugis.  Mereka dikarunia tiga putra putri yang masih kecil. Si sulung baru kelas 3 SD. Mereka baru diberi keturunan ditahun ke-12 usia pernikahan.

Daday muda mengerjakan apa saja diperantauan untuk bertahan hidup. Bekerja di toko, menjajakan apa saja, menjadi kuli bangunan, pokoknya apa saja.  Kerja kerasnya berbuah manis dan nasib baik berpihak padanya. Ia tumbuh dari pemborong bangunan kecil-kecilan menjadi kontraktor bangunan kelas menengah. Dari mengerjakan renovasi rumah, membangun rumah mungil hingga mengerjakan komplek perumahan kecil. Namanya kian dikenal, mulailah ia memenangkan proyek-proyek pemerintah, umumnya gedung-gedung pemerintah dan bangunan sekolah. Kehidupannya membaik, ia mampu pulang ke Bogor satu hingga dua kali setahun, menengok kedua orang tuanya.

Kunci sukses mendapatkan proyek-proyek pemerintah sebenarnya sederhana saja, Asal bersedia 'berbagi rezeki' dengan pihak-pihak terkait, dipastikan proyek mengalir lancar. Pak Daday paham bahwa yang ia lakukan adalah salah, baik dari sisi agama maupun hukum negara.

Kadang terlintas dalam fikirannya bagaimana kalau tiba-tiba Allah menghukumnya atas keculasan yang ia lakukan. Bila risau itu tiba, ia tak lelap tidur. Namun bagaimana lagi, ia hanya bagian kecil dari sistem yang menurutnya rumit itu. Tak tampak olehnya pilihan lain selain ikut saja irama gendang yang ia tak tahu ditabuh oleh siapa.

Malang tak dapat ditolak, rupanya Allah benar-benar menurunkan apa yang ia khawatirkan. Entah apa sebabnya, rekanannya sesama wiraswastawan dan koneksinya dipemerintahan tiba-tiba menjadi sangat serakah. Mereka berkomplot menipu Pak Daday. Ia dijebak dan tersudut tanpa banyak pilihan, kecuali menanggung kerugian yang mereka ciptakan. Kalau tidak hukuman pidana menantinya. Tak banyak waktu baginya untuk berfikir. Maka, sekejap mata saja, semuanya musnah. Tabungannya ludes dan beberapa harta tak bergerak habis terjual. Ia kembali ketitik saat menjejakkan kaki di Makasar untuk pertama kali, dua puluh lima tahun lalu. Tak punya apa-apa. Bedanya kini, ia tak sendiri. Ada seorang istri dan tiga anak dibawah tanggungannya.

Belum sepenuhnya ia pahami apa yang sedang menimpanya, Pak Daday mengambil keputusan cepat, pulang ke Bogor. Biar Makasar tertinggal di belakang, untuk dilupakan.

Mereka sekeluarga tinggal dirumah orang tua Pak Daday. Hidup baru mulai mereka tata dengan membuka warung Coto Makasar. Tak bertahan lama, warung ini gulung tikar, meski masakan istri Pak Daday terkenal enak. Pak Daday yakin sebabnya hanya satu, masakan Makasar tak sesuai dengan lidah orang Sunda.
 
Kini ia mengandalkan penghasilan dari menjadi pengemudi aplikasi transportasi online dengan mobil yang ia sewa Rp. 150,000 per hari. Setelah dipotong bensin, ia rata-rata membawa uang pulang antara Rp 100,000 hingga Rp 200,000. Sang istri dirumah membantu menambah penghasilan dengan membuat kue coklat yang dititipkan diwarung-warung.

"Bagaimana Bapak bisa tetap tenang saat goncangan itu tiba dan mengambil keputusan pulang ke Bogor demikian cepatnya?", tanya saya.

"Saya juga nggak ngerti, Mas. Waktu itu yang terpenting adalah bagaimana anak-anak segera punya tempat berteduh. Saya masih berburuk sangka sama Allah kenapa saya dihukum segitu beratnya. Tidak sampai setahun kemudian, ibu dan bapak saya meninggal, waktunya berdekatan. Saya mulai mengerti hikmah dibalik musibah. Coba kalo saya nggak balik kampung, saya nggak ada kesempatan menghabiskan waktu dengan Bapak dan Ibu dihari-hari terakhir mereka. Malah saya mungkin nggak sempet bertemu dan mengurus jenazah mereka". Jawaban ini membuat saya tersekat.

"Malah sekarang saya bersyukur, Mas, dikasih musibah itu", lanjut Pak Daday.

"Kok bisa gitu?", kejar saya penasaran. "Iya, Mas. Coba kalo nggak, sampai hari ini saya mungkin masih jadi kontraktor, malah mungkin tambah sukses. Artinya juga, saya makin dalam bergelimang dosa. Makin gede proyek, sogokannya kan makin gede, Mas. Mendingan sekarang mah, biar hidup susah, nggak ada duit, tapi hati saya tenang.  Sebenarnya Allah menyelamatkan saya dengan musibah yang diturunkan-Nya."
 
Saya kehabisan kata-kata dan berusaha keras agar air mata tak keluar. Sepertinya saya tak berhasil. Saya mengalihkan pandangan ke jendela kiri, agar Pak Daday tak melihat wajah saya.

Comments

Popular posts from this blog

Lampu togok dan lampu strongkeng

Kopi cap "Rangkiang", kue sangko & saudagar tembakau

TV Pertama Kami (bagian 3)