Posts

Captain Sahar: AirAsia's Pilot with Engaging Flight Announcement

I flew Air Asia flight AK402 from Padang to Kuala Lumpur on Saturday morning, 25 April 2015.  It is a normal brief 50 minute morning flight, except for one thing, Captain Announcement before take-off. He introduced himself as Captain Sahar and his co-pilot, First Officer Kawai.  Unlike other lame Captain Announcement, he delivered it in very enjoyable and entertaining way, in English with American accent.  He described our flight path and what to anticipate in more details than other pilots will do, especiallly for such short flight Padang to Kuala Lumpur.  We will circle over Padang then pass over city of Pekan Baru, continue to fly over city of Dumai before crossing strait of Malacca and approach Kuala Lumpur International Airport (KLAI) via Port Dickson.  We will cruise at 31,000 feet above sea level and start descent after 18 minutes of cruising.  He even told us that his First Officer Kawai will be in charge for take off and he will do the landing late...

Abak dan Batu Akik

Telah kuceritakan bahwa mendiang Abak (ayah) adalah seorang multi talenta, namun tak pernah benar-benar sukses secara financial dari satu pun keahliannya itu.  Ia pernah menjadi penjahit, tukang pangkas rambut, tukang reparasi sepeda, tukang patri, pembuat sekaligus distributor bubuk kopi, pembuat kue sangko (semacam kue putu kering), pedagang tembakau, petani kopi dan petani kayu manis. Fenomena popularitas batu akik belakangan ini mengingatkan saya bahwa Abak juga pandai mengasah batu akik.  Dia telah menjadi penggemar batu semenjak muda dan di jemarinya juga selalu ada cincin berbatu akik.  Namun, sepanjang ingatan saya dia tidak pernah begitu terobsesi dan tergila-gila setengah mati pada batu akik seperti sebagian orang-orang hari ini.  Mungkin karena waktu itu hobby batu akik belum membawa efek keuangan yang menggiurkan seperti hari ini. Abak kadang berhenti sebentar di lapak pedagang batu akik di pasar, sekedar berbincang ringan sembari melihat-lihat k...

Orang Pintar dan Kekuasaan

Semua orang adalah pintar. Pertama, orang pintar yang punya uang. Ia jeli memilih orang yang merasa pintar dan mendudukkannya disinggasana kekuasaan. Ia mungkin tidak bertambah pintar, tapi yang jelas ia tambah kaya dengan menimbun pundi-pundinya melalui penguasa yang merasa pintar itu. Kedua, orang pintar yang tidak punya uang.  Ia cukup pintar untuk memaklumi bahwa penguasa adalah orang yang merasa pintar dan sedang dipakai oleh orang pintar yang punya uang. Ia menggunakan kepintarannya untuk mengingatkan orang-orang yang merasa pintar. Ketiga, orang yang merasa pintar. Orang ini percaya bahwa penguasanya pintar.  Ia punya peluang lebih besar untuk menjadi penguasa berikutnya. Ada yang bertanya kenapa orang merasa pintar tidak dibagi dua menjadi yang punya uang dan tidak. Sebenarnya tidak perlu, karena orang yang merasa pintar dan punya uang akan segera kehilangan semua uangnya, diambil oleh orang pintar yang punya uang.  Pada akhirnya semua orang yang merasa ...

Sekolah Kami

Bendi Kami tumbuh di Sungai Penuh, kota mungil yang tersuruk jauh di bibir lembah Kerinci, dikurung kerimbunan hutan hujan tropis Taman Nasional Kerinci Seblat, di ketinggian pegunungan Bukit Barisan.  Di kota ini semua tempat dapat dicapai dengan berjalan kaki.  Sekolah, pasar, terminal, rumah kawan, masjid, rumah sakit, lapangan sepak bola, semuanya.  Maka sebagian besar dari kami tumbuh sebagai pejalan kaki yang tangguh.   Suatu hari di bulan Juli 1990, kami menginjakkan kaki untuk pertama kali di SMA Negeri 1 Sungai penuh, sekolah tua di Jalan Arif Rahman Hakim.  Hampir semua murid datang dengan berjalan kaki, kecuali beberapa kawan yang memang tinggal di daerah jauh dari kota kecil kami. Mereka naik sepeda motor, atau naik angkutan umum dari kampung mereka menuju terminal dan disambung dengan berjalan kaki atau naik bendi. Bendi adalah satu-satunya angkutan umum untuk jarak dekat di dalam kota yang tersedia, belum ada ojek waktu itu.  Bendi a...

Kerbau Mak si Koyo dan Harimau Sumatera

Rumah kami terletak di kaki bukit, bukit Sitangis namanya.  Sebagaimana kebanyakan tempat, ada legenda dibalik nama itu, tapi saya tidak ingat lagi detailnya.  Konon, dulu kala, ada seorang puteri yang meluapkan kesedihannya dan menangis di bukit itu.  Mengapa ia menangis, saya tak ingat lagi ceritanya.  Sejak itu bukit itu dinamakan Bukit Sitangis. Bukit itu tidaklah terlalu besar dan tinggi.  Separuh hingga pinggangnya telah menjadi ladang berbagai tanaman.  Ada yang bilang setengah bagian diatasnya hingga puncak belum terjamah oleh manusia, alias masih perawan.  Pendapat yang saya ragukan kesahihannya.  Memang hutan di setengah bagian atas itu terlihat lebat, tapi, itu tadi...bukit itu tidaklah tinggi sekali dan berada dekat dengan pemukiman penduduk yang ramai.  Masak sih...tidak satu pun manusia pernah menginjak puncaknya...paling tidak puteri yang menangis tadi dan para punggawa atau inang-inangnya.  Ah sudah lah...kita lupakan dul...

Apa Gunanya Sekolah Tinggi Tapi Tak Pandai Mengaji

Image
Selagi masih dalam suasana Ramadan dan Idul Fitri, kisah kali ini sedikit religius.  Pernah aku ceritakan bahwa aku tidak pernah mengenyam pendidikan pra-sekolah, Taman Kanak-Kanak.  Begitu menginjak 6 tahun aku langsung masuk SD dan untuk pertama kalinya mulai belajar berhitung, membaca dan menulis.  Engkau mungkin masih ingat kawan, betapa kejam angka dua telah menyiksaku. Yanto, Sanusi dan Nilai Merah Sekolah kami adalah SD kampung, nama resminya SD No 88/III, Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci.  Akan tetapi karena SD ini adalah sekolah yang ketiga didirikan dikampungku, maka penduduk kampung menyebutnya sebagai SD 3.  Ia bukanlah SD terbaik dari keseluruhan 6 SD yang ada dikampung kami, tapi jelas yang terdekat dari rumahku, kurang lebih dua ratus meter saja ke utara.  Tiap angkatan muridnya hanya ada belasan.  Aku tak lagi ingat siapa saja kawan-kawan SD ku, kecuali dua orang, Yanto dan Sanusi. Yanto adalah anak Sersan poli...

Aku dan Golkar

Masih dalam suasana pesta demokrasi, dipenghujung hingar bingar pemilihan presiden, aku kumpulkan serpihan kenangan tentang politik dimasa lalu, sepanjang yang dilihat, dirasa, sebatas yang mampu kupahami dan kuingat.  Terutama tentang Golkar, penguasa Indonesia selama tiga dekade.  Aku anak Orde Baru, dilahirkan saat Indonesia gencar membangun, dibawah komando Bapak Pembangunan yang dibantu oleh Kabinet Pembangunan.  Pembangunan dirancang dalam REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Setiap Repelita dieksekusi oleh satu angkatan Kabinet Pembangunan.  Ada 6 Pelita sepanjang Pak Harto berkuasa, kalau tidak salah. Maka, ada Kabinet Pembangunan 1 sampai 6.  Wakil Presiden dan kabinet berganti setiap lima tahun, tapi presidennya tetap Pak Harto.  Ada juga beberapa menteri yang bertahan lintas kabinet, beberapa yang kuingat Emil Salim, Sudharmono, BJ Habibie dan tentu saja sang legenda, Harmoko. Sejak Pemilu 1971, partai politik hanya ada tiga, bahkan salah...