Posts

Apalah Arti Sebuah Nama....

Seorang kolega sekaligus kawan di Facebook sangat gundah hari ini. Esok pukul empat pagi ia akan berangkat ke Saudi Arabia untuk keperluan bisnis. Karena Jeddah merupakan salah satu kota tujuannya, maka menyempatkan diri melaksanakan umrah di Makkah yang hanya berjarak delapan puluh kilometer merupakan rencana bijak. Menghadapi segala sesuatu yang pertama memang selalu mendebarkan. Begitu pula dengan sahabat ini yang tak sabar menanti hari-hari keberangkatan. Waktu berlalu begitu pelan terasa. Hingga tiba pagi ini, seorang kolega lainnya menangkap sesuatu yang aneh tertulis pada visa sahabat ini. Disitu tertulis dalam bahasa Arab bahwa agama sahabat ini adalah Non-muslim. Artinya, ia bisa memasuki Saudi Arabia kecuali dua kota, Makkah dan Madinah. Lalu bagaimana dengan rencana umrah, yang adalah magnet sebenarnya dari perjalanan bisnis kali ini? Muasal semua gempita ini tak lain adalah sebuah nama. Nama depan sahabat ini adalah nama barat, meski nama keduanya sangat Indonesia. Petugas ...

Not Designed for Human Being

Perjalanan pekan ini, meski sangat singkat seperti biasa, memberi kesempatan untuk menikmati dua kota penting di Uni Emirat Arab, Abu Dhabi dan Dubai, meski hanya untuk secuil sudut saja. Keduanya memiliki kesamaan dalam banyak hal. Sama-sama kaya dari minyak, itu pasti. Keduanya berlomba-lomba membangun kota modern. Pekerjaan konstruksi bertebaran di seluruh penjuru. Lengan-lengan panjang dari crane-crane jangkung berseliweran. Dengan ekspatriat mencapai lebih dari delapan puluh persen dari jumlah penduduk, keduanya telah dan terus berkembang menjadi kota dunia. Udara yang belum terlalu panas di bulan April, menggoda untuk berjalan kaki menikmati suasana. Disini, keduanya berbeda. Untuk kota ditengah padang pasir, Abu Dhabi sungguh hijau. Pohon-pohon ditanam di tepi dan median jalan. Tidak jauh dari financial district, kota ini memiliki taman yang sangat luas. Hijau dan menyejukkan. Dirancang sedemikian rupa, ia syurga bagi pejalan kaki dan jogger . Memanjakan keluarga dengan lapanga...

Mana Indonesianya?

Ada satu alasan yang membuat saya tidak sabar menanti perjalanan kali ini. Tidak kotanya, tidak pula kegiatan yang harus saya lakukan disana. Melainkan pertemuan dengan rekan setanah air. Pada dua belas April dua ribu sembilan, Abu Dhabi menjadi tuan rumah Annual General Meeting Global Takaful Group (GTG) . GTG adalah asosiasi perusahaan takaful and retakaful yang beranggotakan empat puluh sembilan perusahaan dari berbagai belahan bumi. Diantaranya terdapat lima perusahaan asuransi/reasuransi syariah dari Indonesia. Mereka bukan anggota biasa, melainkan termasuk pendiri asosiasi ini. Salah seorang eksekutif reasuransi syariah Indonesia menjadi anggota Dewan Direktur GTG. Tahun-tahun sebelumnya, selalu ada utusan Indonesia, setidaknya satu perusahaan. Tapi kali ini tidak. Dua hari kemudian, 14-15 April 2009, di Dubai, berlangsung World Takaful Conference, sebuah konferensi tahunan industri takaful yang dihadiri oleh utusan dari seluruh dunia. Lagi-lagi saya tak bertemu delegasi dari Ind...

Tua dan Bernas

Pakar pengembangan diri selalu menyarankan untuk banyak-banyak menghadiri seminar, conference , convention atau sejenisnya. Untuk menambah wawasan dan meng- update diri dengan perkembangan terkini, begitu kata mereka. Tapi kenyataannya, sebagian besar even seperti itu membosankan. Pembicara membawa topik yang itu-itu saja, datar-datar saja, bahkan cenderung basi. Apalagi kalau event organiser -nya rada-rada kurang profesional, lengkap sudah. Kadang yang dibawa pulang justru kesan tentang sisi lain yang tidak penting seperti menu makan siang atau souvenir dari panitia. Tapi, kali ini berbeda. Pekan lalu saya menghadiri sebuah event bernama ICTR 2008 (International Convention on Takaful & Retakaful) dan pulang dengan kesan yang mendalam. Organiser menghadirkan Tun DR. Mahathir Muhammad, mantan Perdana Menteri Malaysia, sebagai keynote speaker . Ketika lelaki yang telah berusia 83 tahun itu memasuki ruangan, seluruh hadirin diminta berdiri oleh pembawa acara. Saya mencoba m...

Bila Istri Cerewet

Oleh : Ahmad Bustam Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet. Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar. Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun? Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut? 1. Benteng Penjaga Api Neraka Kelemah...

Indonesia Raya Lagu Termerdu

Agustus memang beda. Bendera, umbul-umbul dan spanduk merah putih melambai-lambai. Penjual bendera berbaris disepanjang jalan. Setiap kampung menegakkan batang pinang dengan rupa-rupa hadiah dipucuknya. Jalan-jalan di garis putih seperti lintasan atletik olimpiade, untuk balap karung dan adu cepat lari dengan bibir menjepit sendok berisi kelereng. Kapling kosong disulap jadi lapangan sepak bola untuk bapak-bapak berkostum daster butut istri tercinta. Tukang kerupuk sumringah karena dagangan laris manis diborong panitia agustusan. Singkat kata, atmosfir Agustus adalah semarak dan suka cita. Bagi mereka yang tidak berada di tanah air, kemeriahan suasana itu adalah kemewahan. Agustus biasanya berlalu begitu saja. Tapi tidak bagi WNI di Bahrain, negara pulau kecil di Teluk Persia. Berhimpun dalam PERKIBAR (Perhimpunan Keluarga Besar Indonesia di Bahrain), tahun ini mereka mencoba menghadirkan atmosfir Agustus tanah air di negeri orang. Berbagai lomba khas agustusan pun digelar, ...

Isi Angin, Keluar Angin

Sepekan ini ban belakang kanan terlihat lebih ceper dari yang lain. Dua kali sudah isi angin di bengkel depan masjid Hidd. Ini kasus ban kempes pertama yang saya alami sejak hijrah ke Bahrain empat belas bulan lalu. Secara frekuensi, tidak lah terlalu buruk. Maklum disini tidak ada ranjau paku seperti di tanah air. Sehabis ban ditambah anginnya, orang India pekerja bengkel tidak mau dibayar. Jadi, isi angin di Bahrain masih gratis. Ditanah air, hanya keluar angin yang masih gratis. Isi angin harus bayar, 'seribu rupiah untuk setiap ban', kata seorang kawan yang baru kembali dari mudik. Curiga pada kemungkinan bocor, sore tadi saya kembali ke bengkel yang sama, minta diperiksa. Ternyata benar, bocor satu dan perlu ditambal. Yang ini harus bayar, satu Bahrain Dinar, setara dengan dua puluh empat ribu rupiah. Wah...kalau dikampung halaman, fulus segitu bisa buat nambal lima atau enam lubang selepas melibas ranjau paku yang biasa ditebar si abang tambal ban. Hidd010908