Posts

Dialog dengan Presiden tentang IPB

Lini masa saya hari-hari ini riuh rendah oleh gelombang tanggapan alumni IPB atas kritik Presiden Jokowi saat berpidato dalam Dies Natalis IPB ke-54.  Apalagi kalau bukan soal lulusan IPB yang bekerja dibanyak bidang lain, tidak ada yang jadi petani. Sebagai alumni IPB yang tersesat di industri asuransi, maka izinkan saya nimbrung barang sebait dua. Sesungguhnya kritikan itu bukanlah hal baru dan janggal.  Setiap alumni IPB pasti pernah terlibat dalam perkenalan, perbincangan atau diskusi yang berujung pada perdebatan itu.  Saya pun demikian. Contohnya adalah seperti dialog imaginer berikut ini antara seorang alumni IPB dan Presiden Joko Widodo saat mereka pertama kali bertemu. Joko (J): Saya Joko, Mas. Mas e siapa? Delil (D): Saya Delil, Pak. J : Mas e kerja dimana? D: Asuransi. J: Oh njih...kalau saya punya pabrik mebel Mas. D: Wah.. bagus itu, Pak. Indonesia perlu lebih banyak pengusaha seperti anda.  Saya sangat respect pada pengusaha dan ingin jadi sala...

Karena Rohingya tak lagi bisa menunggu

Image
Source: TheWire.in Kelekatan suatu kaum pada tanah kelahiran tumpah darahnya pastilah sangat erat. Nyawa pun dipertaruhkan untuk mempertahankannya. Keputusan terakhir meninggalkan kampung halaman barulah akan diambil bila bahaya yang mengancam demikian buruknya, hingga bertahan disana dapat berujung musnahnya kaum itu hingga keakar-akarnya. Kaidah ini berlaku pada semua kaum, suku dan bangsa diseluruh dunia. Tidak terkecuali Rohingya. Malangnya, situasi terburuk itulah yang telah mengepung bangsa Rohingya bertahun-tahun lamanya. Setiap nafas mereka hela dibawah selubung kengerian datangnya bala tentara atau gerombolan kaum lain untuk merenggut paksa hidup mereka atau membumihanguskan dusun mereka. Maka serangan itu datang, bergelombang-gelombang. Dalam ketakutan dan ketakberdayaan, terbirit-birit mereka melarikan diri. Membawa serta anggota keluarga yang masih bernyawa and kain yang melekat dibadan saja. Meninggalkan sanak saudara yang meregang nyawa, yang tak sempat dikub...

Dara cantik pembawa baki

Image
Saat itu TV hitam putih 14 inchi merek National adalah pusat hiburan keluarga kami, bahkan para tetangga. Dan TVRI, yang mengudara dari pukul empat tiga puluh petang hingga menjelang tengah malam, adalah satu-satunya stasiun TV. Ada dua tayangan yang wajib ditonton, keduanya siaran langsung. Yang pertama, siaran langsung pertarungan tinju kelas berat Mike Tyson. Yang kedua, siaran langsung peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tepat pukul 10 pagi tanggal 17 Agustus setiap tahun dari Istana Merdeka, diikuti pengibaran bendera pusaka. Anda yang seangkatan dengan saya atau lebih senior tentu masih ingat kualitas penyiar TVRI dan RRI masa itu. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dikombinasikan dengan suara enak didengar dan intonasi terkendali. Perpaduan yang menghanyutkan, seolah menghisap pemirsa dan membawanya ketempat mereka melaporkan. Maka saat mereka menggambarkan suasana Istana, aku yang belum pernah sekalipun ke Jakarta rasanya seda...

Cita-citaku menjadi Polisi

Ketika kanak-kanak dulu, menjadi polisi adalah cita-citaku.  Pak polisi tampak gagah dan berwibawa sekali dibalik seragam coklat muda mereka. SD tempat aku bersekolah berada disebelah kantor polsek.  Aku senang melihat para polisi itu apel pagi dengan seragam mereka. Kekagumanku pada polisi turut dibentuk oleh film-film serial barat yang ditayangkan TVRI dimasa itu, seperti Chips, TJ Hooker atau Hunter, yang hadir dilayar kaca hitam putih kami sekali sepekan.  Mereka adalah para polisi pahlawan pembela kebenaran dan pasti menang diakhir film.  Entah karena mereka memang jagoan atau para penjahat yang berganti setiap minggu itu pandir semuanya. Pokoknya, kagak ade matinya. Persepsi terhadap polisi berevolusi seiring perjalanan usia.  Ketika beranjak remaja, mulai aku mendengar kabar tentang Polisi yang tak selalu membanggakan.  Tentang tetangga yang yang cenderung tidak melaporkan ketika rumah, motor, hewan ternak atau ladang kayu manis mereka kemalingan....

Musibah Yang Menyelamatkan

Image
Ini kejadian nyata tiga pekan lalu. Saya kembali ke Bogor setelah enam tahun untuk kunjungan singkat tidak lebih dari delapan belas jam. Misi utama adalah menyerahkan dua anak remaja saya, Daffa dan Zaki, kepada Kang Baban Sarbana untuk dibawa tinggal didesanya dikaki Gunung Salak. Kunjungan yang pendek tapi mempertemukan saya dengan dua orang pejuang tangguh. Selepas serah terima dengan Kang Baban, saya buat janji untuk mengunjungi seorang kawan di Sentul. Selepas Maghrib saya pesan kendaraan dari aplikasi di telepon genggam dan diambil oleh pengemudi bernama Muhammad. Saya duduk dimuka, disamping Muhammad. Ia membuka perbincangan dengan mengatakan bahwa hari itu ia beruntung mendapatkan empat penumpang sebelum saya secara berurutan tanpa jeda dan semuanya melalui jalur yang sama yang bebas macet, bolak-balik. Ia lalu bertanya mengapa saya di Bogor. Saya jelaskan singkat dan ia terkejut karena saya alumni IPB dan kenal Kang Baban. "Saya juga alumni IPB angkatan 29,...

My first Oscar

Image
This Facebook post attracted quite number of likes and comments. Many curiously queried how I can get Oscar trophy. I have been working in reinsurance/retakaful industry, with five employers (so far), for close to two decades now. You could be famous in many ways in this industry, but winning Academy Award? Seriously..? Ok, folks. Relax... let me tell you the story behind this 'great' achievement. My current employer, Swiss Re, has annual internal conference called Asia Days. It's a two or three days event for us in Asia. Not everyone can participate. You need to be appointed or selected based on certain criteria. I was selected to join last year event in Mumbai, but not this year in Tian Jin, China. As part of Asia Days 2017, the committee organized short video competition for all Swiss Re offices across Asia. Each video is required to carry one of three given themes i.e. Connect, Inspire and Act. We have nine offices in Asia, so there will be th...

Cinta Pertama

Image
Sembilan Juni seribu sembilan ratus sembilan puluh dua Hari itu tidak sama dengan hari-hari lain yang telah berlalu Mentari bersinar lebih cerah dari biasanya Tidak terik namun menghangatkan Indah sekali bagi belia sepertiku Hari itu aku jatuh cinta, untuk kali pertama Sebagaimana segala sesuatu yang pertama Ia menggulanakan Darah tersirap, jantung berdetak cepat, kening berkeringat Hari itu aku harus memilih Karena cinta diuji tatkala harus memilih Satu saja diantara tiga, tiada duanya Maka permenungan ini mestilah dituntaskan Source: www.trendwanita.com Pilihan telah pun dijatuhkan Harapan telah pun dititipkan Cinta telah pun dilabuhkan Pada yang paling menawan jiwa Yang lugu dan sederhana Dia bukan pilihan Ibunda Namun apatah daya Hasrat tertuntung habis padanya Meski Ayahanda memilih bijaksana Karena Ananda yang menjalaninya Begitu katanya Tujuh tahun telah bersamanya Sehingga suatu hari dipenghujung abad lalu Hadir yang lain diantara kami ...